Aku bingung harus memulai kisah ini dari mana. Yah, tiba tiba saja aku sudah berada di depan sekolah temanku yang bahkan aku sendiri tidak tahu dimana. Yang aku tahu, aku sudah ditarik oleh temanku untuk memasuki sekolahnya dan disinilah semuanya dimulai...
"Kamu siswi kelas berapa?", tanya seorang wanita berjilbab yang aku yakini adalah seorang guru di sekolah ini.
"Sa..saya siswi kelas XII" ucapku tergagap. Yah, aku memang bukan murid disini. Tetapi temanku menyuruhku untuk bilang kalau aku adalah siswi kelas XII disini bila ada yg bertanya.
"Oh yasudah, sekarang kamu duduk disana dengarkan pembekalan dan ceramah agama ya"
Aku pun duduk sambil terus berpikir "ini dimana?" sekolah ini nampak seperti Madrasah, atau bisa juga pesantren. Atau ini hanya SMA/SMK biasa? Entahlah.
Aku mulai tidak sadar sudah berapa lama aku duduk disitu sampai akhirnya aku ditarik oleh temanku yang sebenarnya aku lupa wajahnya-bahkan namanya- untuk mengikuti acara membuat kenangan dengan siswa kelas XII yang lain.
Aku melihat ada dua temanku disana. Ya, ada Nanda dan Putri yang wajahnya nampak ketakutan. Aku menghampiri mereka tanpa bertanya dimana kita sebenarnya karena guru disekolah itu mulai membagikan kelompok untuk kita.
Dalam beberapa saat aku melihat seorang anak laki laki seumurku yang terlihat dingin. Entah siapa dia. Wajahnya lumayan menakutkan menurutku dalam suasana kebingungan yg benar benar lagi menyelimutiku. Aku melihat siswa siswi di sekitarku sedang berbisik bisik dengan ekspresi ketakutan. Ada apa sih?
Putri menarik tanganku lalu membisiki telingaku "kamu tau cowo yang disana itu? Dia udah meninggal kemarin, tapi dia kembali lagi karena dia ga tenang selama dia belum dinyatakan lulus dari sekolah ini" Jantungku berdegup. Antara percaya atau tidak aku kembali menatap laki laki itu. Wajahnya terlihat sedikit pucat dengan mata yg menerawang. "Kok bisa meninggal?", hanya itu yg bisa aku ucapkan. "Kabarnya dia tenggelam di sungai dekat sekolah", sambung Nanda.
Kegiatan berbisik bisik ria pun selesai saat Guru mulai menyebutkan nama nama kelompok. Aku, Nanda, Putri, entah siapa yg satu lagi, dan Doni. Asal tahu saja, laki laki yang kabarnya sudah meninggal itu namanya Doni.
Aku tidak terima -tentu saja- aku langsung menghampiri guru tersebut dan memohon agar pindah kelompok, tapi guru tersebut malah tidak ada peduli dan belas kasihannya denganku-_-
Kami disuruh berfoto. Aku yg sudah mengambil posisi terjauh dari Doni harus rela duduk disebelahnya karena 3 temanku terlalu pintar buat nyempil nyari tempat yang aman. "Gapapa gapapa paling sekali jepret lo bisa kabur", ucapku dalam hati untuk menenangkan diri sendiri. Ya, kami berlima. Supaya terlihat kompak Doni menyuruh kami semua meletakkan tangan seperti ber-highfives ria, aku meletakkan tangan pertama, sebelum Doni menaruh tangannya diatas tanganku, aku menarik tangan Nanda. Dia tersenyum. Rese banget itu hantu pikirku. Kami berfoto. Ya hasilnya bagus, kecuali Doni yg terlihat emosi karena tidak memiliki hasil dan efek kamera yg membuat matanya sakit. Aku segera berlari. Berlari entah kemana dan aku berhasil ke luar dari sekolah itu.
Aku berpindah. Aku ada dimana sekarang? Aku ada ditengah perang atau apa? Aku bertemu adik sepupuku yang super duper ngeselin dan dia bilang dia ingin meledakkan tempat ini. Apa apaan ini? Aku berlari keluar rumah. Aku bertemu seorang pria yang seolah tak asing. Apa dia Doni? Tapi dia manusia, bukan hantu. Ah aku tidak tahu, yg aku tahu sekarang aku bertengkar hebat dengan adik sepupuku yg berumur 4 tahun dengan pistol di tangan kami masing masing. Entah bagaimana, aku mendengar suara papaku diluar sana. Dia menyuruhku dan pria itu untuk keluar karena dia akan segera meledekkan tempat ini. Aku berlari keluar, aku menyelamatkan handphoneku dulu sebelum itu -hanya ini yg aku ingat- setelah sampai diluar tempat itu meledak hebat. Ya, ledakkannya terdengar dimana mana. Aku berlari, terus berlari. Dan, semua kembali berubah.
Aku sampai di sekolah asliku. Apa ini sudah saatnya masuk sekolah? Tidak. Ternyata aku diberi surat untuk pindah sekolah karena aku dituduh sebagai tersangka yang melakukan peledakkan. Aku menangis. Aku mencoba membuka surat tersebut dan aku tertarik ke dalamnya. Aku kembali. Ya aku kembali ke Sekolah Asing yg ternyata adalah sekolah para Zombie. Aku terjebak.. Tidaaaakkk... Tolong akuuuuuuu... Aku mohon keluarkan aku dari sini. .... Tidakkkkk....
******
"Pita pita pita.. Neng pita neng bando, jepit rambut,..."
Aku terbangun. Sudah jam 8 pagi. Apa di sekolah Zombie ada yang jual jepit rambut? Aku melihat sekeliling. Ini rumahku. Alhamdulillah..
Ternyata semua ini hanya mimpi. Mimpi akibat nonton film horor sepanjang hari dan lupa berdoa saat tidur :v ya, serius deh kalo lupa berdoa biasanya suka mimpi gajelas yang ujung ujungnya bertemu hantu. Huh....
SELESAI :V
"Kamu siswi kelas berapa?", tanya seorang wanita berjilbab yang aku yakini adalah seorang guru di sekolah ini.
"Sa..saya siswi kelas XII" ucapku tergagap. Yah, aku memang bukan murid disini. Tetapi temanku menyuruhku untuk bilang kalau aku adalah siswi kelas XII disini bila ada yg bertanya.
"Oh yasudah, sekarang kamu duduk disana dengarkan pembekalan dan ceramah agama ya"
Aku pun duduk sambil terus berpikir "ini dimana?" sekolah ini nampak seperti Madrasah, atau bisa juga pesantren. Atau ini hanya SMA/SMK biasa? Entahlah.
Aku mulai tidak sadar sudah berapa lama aku duduk disitu sampai akhirnya aku ditarik oleh temanku yang sebenarnya aku lupa wajahnya-bahkan namanya- untuk mengikuti acara membuat kenangan dengan siswa kelas XII yang lain.
Aku melihat ada dua temanku disana. Ya, ada Nanda dan Putri yang wajahnya nampak ketakutan. Aku menghampiri mereka tanpa bertanya dimana kita sebenarnya karena guru disekolah itu mulai membagikan kelompok untuk kita.
Dalam beberapa saat aku melihat seorang anak laki laki seumurku yang terlihat dingin. Entah siapa dia. Wajahnya lumayan menakutkan menurutku dalam suasana kebingungan yg benar benar lagi menyelimutiku. Aku melihat siswa siswi di sekitarku sedang berbisik bisik dengan ekspresi ketakutan. Ada apa sih?
Putri menarik tanganku lalu membisiki telingaku "kamu tau cowo yang disana itu? Dia udah meninggal kemarin, tapi dia kembali lagi karena dia ga tenang selama dia belum dinyatakan lulus dari sekolah ini" Jantungku berdegup. Antara percaya atau tidak aku kembali menatap laki laki itu. Wajahnya terlihat sedikit pucat dengan mata yg menerawang. "Kok bisa meninggal?", hanya itu yg bisa aku ucapkan. "Kabarnya dia tenggelam di sungai dekat sekolah", sambung Nanda.
Kegiatan berbisik bisik ria pun selesai saat Guru mulai menyebutkan nama nama kelompok. Aku, Nanda, Putri, entah siapa yg satu lagi, dan Doni. Asal tahu saja, laki laki yang kabarnya sudah meninggal itu namanya Doni.
Aku tidak terima -tentu saja- aku langsung menghampiri guru tersebut dan memohon agar pindah kelompok, tapi guru tersebut malah tidak ada peduli dan belas kasihannya denganku-_-
Kami disuruh berfoto. Aku yg sudah mengambil posisi terjauh dari Doni harus rela duduk disebelahnya karena 3 temanku terlalu pintar buat nyempil nyari tempat yang aman. "Gapapa gapapa paling sekali jepret lo bisa kabur", ucapku dalam hati untuk menenangkan diri sendiri. Ya, kami berlima. Supaya terlihat kompak Doni menyuruh kami semua meletakkan tangan seperti ber-highfives ria, aku meletakkan tangan pertama, sebelum Doni menaruh tangannya diatas tanganku, aku menarik tangan Nanda. Dia tersenyum. Rese banget itu hantu pikirku. Kami berfoto. Ya hasilnya bagus, kecuali Doni yg terlihat emosi karena tidak memiliki hasil dan efek kamera yg membuat matanya sakit. Aku segera berlari. Berlari entah kemana dan aku berhasil ke luar dari sekolah itu.
Aku berpindah. Aku ada dimana sekarang? Aku ada ditengah perang atau apa? Aku bertemu adik sepupuku yang super duper ngeselin dan dia bilang dia ingin meledakkan tempat ini. Apa apaan ini? Aku berlari keluar rumah. Aku bertemu seorang pria yang seolah tak asing. Apa dia Doni? Tapi dia manusia, bukan hantu. Ah aku tidak tahu, yg aku tahu sekarang aku bertengkar hebat dengan adik sepupuku yg berumur 4 tahun dengan pistol di tangan kami masing masing. Entah bagaimana, aku mendengar suara papaku diluar sana. Dia menyuruhku dan pria itu untuk keluar karena dia akan segera meledekkan tempat ini. Aku berlari keluar, aku menyelamatkan handphoneku dulu sebelum itu -hanya ini yg aku ingat- setelah sampai diluar tempat itu meledak hebat. Ya, ledakkannya terdengar dimana mana. Aku berlari, terus berlari. Dan, semua kembali berubah.
Aku sampai di sekolah asliku. Apa ini sudah saatnya masuk sekolah? Tidak. Ternyata aku diberi surat untuk pindah sekolah karena aku dituduh sebagai tersangka yang melakukan peledakkan. Aku menangis. Aku mencoba membuka surat tersebut dan aku tertarik ke dalamnya. Aku kembali. Ya aku kembali ke Sekolah Asing yg ternyata adalah sekolah para Zombie. Aku terjebak.. Tidaaaakkk... Tolong akuuuuuuu... Aku mohon keluarkan aku dari sini. .... Tidakkkkk....
******
"Pita pita pita.. Neng pita neng bando, jepit rambut,..."
Aku terbangun. Sudah jam 8 pagi. Apa di sekolah Zombie ada yang jual jepit rambut? Aku melihat sekeliling. Ini rumahku. Alhamdulillah..
Ternyata semua ini hanya mimpi. Mimpi akibat nonton film horor sepanjang hari dan lupa berdoa saat tidur :v ya, serius deh kalo lupa berdoa biasanya suka mimpi gajelas yang ujung ujungnya bertemu hantu. Huh....
SELESAI :V
Tidak ada komentar:
Posting Komentar