Lingkungan Binaan Asia
Lingkungan Binaan atau dapat juga disebut sebagai lingkungan terbangun merupakan suatu lingkungan yang ditandai dominasi struktur buatan manusia. Sistem lingkungan binaan ini bergantung pada asupan energi, sumber daya, dan rekayasa mannusia untuk dapat bertahan. Dalam bidang Perencanaan Kota, dapat disimpulkan bahwa sebagaian besar lingkungan yang digunakan manusia merupakan lingkungan binaan atau lingkungan buatan. Jadi, dengan kata lain lingkungan binaan asia merupakan lingkungan buatan yang terdapat di daerah-daerah asia. Salah satu contoh kota yang merupakan lingkungan binaan asia yaitu Yogyakarta, dimana nilai-nilai adat yang terkandung dalam permukiman tradisional masyarakatnya menunjukkan estetika serta keanekaragaman masyarakatnya.
Secara historis adanya lingkungan binaan asia dipengaruhi oleh 3 proses pelapisan besar yaitu :
Lapisan Pertama yang dipengaruhi oleh 3 rumpun budaya besar yang tersebar akibat mobilitas atau perpindahan penduduk melalui pelayaran ataupun perdagangan dengan 3 model berbeda, antara lain :
1) Model Kosmologi makro dan mikro kosmis Cina, merupakan model mobilitas yang didasari dengan pengetahuan akan radiasi latar belakang gelombang yang mengisi alam semesta atau kosmis serta pengetahuan akan kosmologi. Kosmologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Ilmu ini secara khusus berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmis Cina dijelaskan sebagai radiasi yang tersisa dari tahap awal perkembangan alam semesta, Model kosmologi serta kosmis yang dianut di Cina lebih mengarah pada pengetahuan pada alam semesta.
2) Model Matematis perencanaan kota dari India (Konsep Mandala), istilah Mandala digunakan untuk menjelaskan sejarah awal pembentukan politik Asia Tenggara atau dapat juga disebut sejarah Asia Tenggara. Mandala sendiri merupakan lingkaran atau model untuk menggambarkan pola penyebaran pengaruh kekuasaan politik dalam sejarah Asia. Kekuatan Mandala utama terdapat di beberapa tempat seperti Kerajaan Khmer di Samboja, Kerajaan Medang, Kadiri, Singhasari, dan Majapahit yang merupakan kerajaan-kerjaan di tanah Jawa, Ayutthaya di Thailand, serta Champa dan Dai Viet di Vietnam. Model matematis perencanaan kota dari India yaitu membangun perkotaan berdasarkan pengetahuan politik atau konsep Mandala sehingga pada kota kota yang dituju nantinya akan ditanamkan nilai-nilai politik sesuai dengan konsep Mandala sehingga memiliki pertahanan politik yang kuat.
3) Model Kosmologi Islam, merupakan model kosmologi atau pengetahuan yang menggabungkan unsur suci (sacred), profane (duniawi), yang nantinya akan menjadi satu kesatuan atau unity. Pengetahuan akan Kosmologi Islam tidak jauh berbeda dengan Kosmologi makro yang ada di Cina yaitu merupakan pengetahuan tentang sejarah alam semesta, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Pada Kosmologi islam pengetahuan bersumber dari kitab-kitab suci dan kosmologi ketuhanan (teisme).
Lapisan Kedua, yaitu pengembangan lingkungan binaan yang dilakukan oleh pemerinta kolonial :
1) Bagian kota yang dihuni kolonial adalah bagian yang direncanakan secara romantic untuk menjadi duplikat kehidupan Eropa, artinya ketika koloni mendiami suatu kota mereka merencanakan agar kota-kota yang mereka tempati sekarang diubah gaya hidupnya seperti kehidupan di Eropa sehingga nantinya mereka bisa menikmati hasil-hasil alam dari kota tersebut namun tetap memiliki rasa kenyamanan yang sama seperti di Eropa. Contohnya seperti kota kota daerah Jawa yang sempat bergaya Indische akibat ledakan penduduk baik dari koloni maupun dari kota-kota lain.
Lapisan Ketiga, yaitu pengaruh pemikiran dan konsep internationalisme dalam perencaan kota yang
i) merupakan sebuah bentuk ekstream dalam penerapan konsep yang tumbuh dari budaya Eropa. Contohnya saja seperti ruang public kota, perlu diketahui bahwa konsep ruang public di Barat dan Timur jauh berbeda terutama yang berada di Asia. Namun, pada penerapannya tumbuh pengertian sesuai dengan konsep Eropa yang menyebutkan bahwa ruang kota sebagai tujuan dari pembentukkan masa masa yang melindunginya, namun hal ini dapat berganti dengan cepat sesuai dengan konsep Asia yang cenderung menjadikan ruang kota adalah akibat dari pembentukan masa bangunan.
ii) Dicobakan pada suatu konteks yang sangat berbeda secara fisik, Ekonomi, maupun sosio-kultural, penyebaran yang dilakukan tidak hanya dengan satu metode tapi menggunakan metode atau konteks yang berbeda beda yang dianggap pas melalui fisik, lalu dari segi ekonomi, dan juga pada sosio-kultural.
iii) Gagasan kota yang mekanis, membagi daerah perkotaan berdasarkan fungsi-fungsi tertentu secara fixed atau pasti dan kemudian menajadi model di Kota-Kota di dunia seperti di Afrika, Amerika Latin, Oceania, dan Asia.
SEJARAH TRANSFORMASI KOTA
Transformasi adalah perubahan fisik yang disebabkan oleh adanya kekuatan non-fisik, yaitu perubahan budaya, sosial, ekonomi, dan publik. Contoh kota yang bertransformasi adalah Dubai. Selain tenar sebagai pemilik pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai juga dikenal menawarkan kehidupan mutakhir yang sebelumnya hanya bisa dinikmati dalam angan-angan.
Segala hal bisa kita dapati di Dubai, mulai dari pulau buatan yang di atasnya terdapat resor-resor, hotel dan apartemen mewah dengan arsitektural megah, hingga pusat-pusat belanja dengan penyewa merek internasional yang hanya bisa diakses kalangan atas.
Namun, ternyata, modernitas dan kekinian kota terbesar kedua di Uni Emirat Arab tersebut dicapai hanya dalam kurun 23 tahun. Masa yang relatif singkat untuk sebuah kota dengan transformasi luar biasa seperti Dubai.
Bersama Abu Dhabi dan kelima emirat lainnya, Dubai memberikan kontribusi besar terhadap total produk domestik bruto (PDB) Uni Emirat Arab saat ini yang mencapai angka lebih dari 360 miliar dollar AS.Keputusan pemerintah Dubai untuk memberi variasi dari pedagangan berbasis ekonomi minyak hingga layanan mengarah kepada pariwisata yang membuat real estat makin bernilai, menghasilkan musim properti dari 2004-2006. Konstruksi dalam skala besar telah meletakkan Dubai sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia.Berikut adalah tanda-tanda bahwa kota telah bertransformasi.
Ditandai dengan 3 tahap (Rossi,1982) yaitu:
1. Tahap pertama: penghancuran bentuk dasar struktur kota abad pertengahan
2. Tahap kedua: ekspansi progresif industrialisasi, penjajahan kolonial
3. Tahap ketiga: perlunya transportasi individu dan massal
KOTA-KOTA NUSANTARA
Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Umumnya kota-kota di Nusantara ciri-cirinya adalah terletak berdekatan dengan pusat pemerintahan kerajaan yang menawarkan keamanan, kota pedalaman sebagai pusat administratif, serta tempat raja mengatur wilayah. Kota di Nusantara kebanyakan tidak memiliki batas yang jelas, dan juga memiliki ketergantungan dan dukungan sosial ekonomi dari kota-kota kecil disekitarnya.
Kota yang telah berkembang maju mempunyai peranan dan fungsi yang lebih luas lagi antara lain sebagai berikut :
Sebagai pusat produksi (production centre). Contoh: Surabaya, Gresik, dan Bontang.
Sebagai pusat perdagangan (centre of trade and commerce). Contoh: Jakarta dan Bandung
Sebagai pusat pemerintahan (political capital). Contoh: Jakarta sebagai Ibukota Indonesia
Sebagai pusat kebudayaan (culture centre). Contoh: Yogyakarta dan Surakarta
Sebagai penopang Kota Pusat. Contoh : Tangerang Selatan, Bogor dan Depok.
Letak kota ini berada di pedalaman dan pesisir Pulau Jawa dan di Pulau-pulau besar seperti Wamena (terletak di pedalaman tengah Papua) dan Uwuk (terletak di Pulau Sulawesi), serta terletak di muara-muara sungai besar seperti muara teweh sebuah kota yang terletak di provinsi Kalimantan Tengah.
Selain itu Kota-kota Nusantara tidak memilik batas yang jelas, contohnya Kota Medan. Serta memiliki ketergantungan dan dukungan sosial ekonomi dari kota-kota kecil di sekelilingnya.
Lingkungan Binaan atau dapat juga disebut sebagai lingkungan terbangun merupakan suatu lingkungan yang ditandai dominasi struktur buatan manusia. Sistem lingkungan binaan ini bergantung pada asupan energi, sumber daya, dan rekayasa mannusia untuk dapat bertahan. Dalam bidang Perencanaan Kota, dapat disimpulkan bahwa sebagaian besar lingkungan yang digunakan manusia merupakan lingkungan binaan atau lingkungan buatan. Jadi, dengan kata lain lingkungan binaan asia merupakan lingkungan buatan yang terdapat di daerah-daerah asia. Salah satu contoh kota yang merupakan lingkungan binaan asia yaitu Yogyakarta, dimana nilai-nilai adat yang terkandung dalam permukiman tradisional masyarakatnya menunjukkan estetika serta keanekaragaman masyarakatnya.
Secara historis adanya lingkungan binaan asia dipengaruhi oleh 3 proses pelapisan besar yaitu :
Lapisan Pertama yang dipengaruhi oleh 3 rumpun budaya besar yang tersebar akibat mobilitas atau perpindahan penduduk melalui pelayaran ataupun perdagangan dengan 3 model berbeda, antara lain :
1) Model Kosmologi makro dan mikro kosmis Cina, merupakan model mobilitas yang didasari dengan pengetahuan akan radiasi latar belakang gelombang yang mengisi alam semesta atau kosmis serta pengetahuan akan kosmologi. Kosmologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Ilmu ini secara khusus berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmis Cina dijelaskan sebagai radiasi yang tersisa dari tahap awal perkembangan alam semesta, Model kosmologi serta kosmis yang dianut di Cina lebih mengarah pada pengetahuan pada alam semesta.
2) Model Matematis perencanaan kota dari India (Konsep Mandala), istilah Mandala digunakan untuk menjelaskan sejarah awal pembentukan politik Asia Tenggara atau dapat juga disebut sejarah Asia Tenggara. Mandala sendiri merupakan lingkaran atau model untuk menggambarkan pola penyebaran pengaruh kekuasaan politik dalam sejarah Asia. Kekuatan Mandala utama terdapat di beberapa tempat seperti Kerajaan Khmer di Samboja, Kerajaan Medang, Kadiri, Singhasari, dan Majapahit yang merupakan kerajaan-kerjaan di tanah Jawa, Ayutthaya di Thailand, serta Champa dan Dai Viet di Vietnam. Model matematis perencanaan kota dari India yaitu membangun perkotaan berdasarkan pengetahuan politik atau konsep Mandala sehingga pada kota kota yang dituju nantinya akan ditanamkan nilai-nilai politik sesuai dengan konsep Mandala sehingga memiliki pertahanan politik yang kuat.
3) Model Kosmologi Islam, merupakan model kosmologi atau pengetahuan yang menggabungkan unsur suci (sacred), profane (duniawi), yang nantinya akan menjadi satu kesatuan atau unity. Pengetahuan akan Kosmologi Islam tidak jauh berbeda dengan Kosmologi makro yang ada di Cina yaitu merupakan pengetahuan tentang sejarah alam semesta, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Pada Kosmologi islam pengetahuan bersumber dari kitab-kitab suci dan kosmologi ketuhanan (teisme).
Lapisan Kedua, yaitu pengembangan lingkungan binaan yang dilakukan oleh pemerinta kolonial :
1) Bagian kota yang dihuni kolonial adalah bagian yang direncanakan secara romantic untuk menjadi duplikat kehidupan Eropa, artinya ketika koloni mendiami suatu kota mereka merencanakan agar kota-kota yang mereka tempati sekarang diubah gaya hidupnya seperti kehidupan di Eropa sehingga nantinya mereka bisa menikmati hasil-hasil alam dari kota tersebut namun tetap memiliki rasa kenyamanan yang sama seperti di Eropa. Contohnya seperti kota kota daerah Jawa yang sempat bergaya Indische akibat ledakan penduduk baik dari koloni maupun dari kota-kota lain.
Lapisan Ketiga, yaitu pengaruh pemikiran dan konsep internationalisme dalam perencaan kota yang
i) merupakan sebuah bentuk ekstream dalam penerapan konsep yang tumbuh dari budaya Eropa. Contohnya saja seperti ruang public kota, perlu diketahui bahwa konsep ruang public di Barat dan Timur jauh berbeda terutama yang berada di Asia. Namun, pada penerapannya tumbuh pengertian sesuai dengan konsep Eropa yang menyebutkan bahwa ruang kota sebagai tujuan dari pembentukkan masa masa yang melindunginya, namun hal ini dapat berganti dengan cepat sesuai dengan konsep Asia yang cenderung menjadikan ruang kota adalah akibat dari pembentukan masa bangunan.
ii) Dicobakan pada suatu konteks yang sangat berbeda secara fisik, Ekonomi, maupun sosio-kultural, penyebaran yang dilakukan tidak hanya dengan satu metode tapi menggunakan metode atau konteks yang berbeda beda yang dianggap pas melalui fisik, lalu dari segi ekonomi, dan juga pada sosio-kultural.
iii) Gagasan kota yang mekanis, membagi daerah perkotaan berdasarkan fungsi-fungsi tertentu secara fixed atau pasti dan kemudian menajadi model di Kota-Kota di dunia seperti di Afrika, Amerika Latin, Oceania, dan Asia.
SEJARAH TRANSFORMASI KOTA
Transformasi adalah perubahan fisik yang disebabkan oleh adanya kekuatan non-fisik, yaitu perubahan budaya, sosial, ekonomi, dan publik. Contoh kota yang bertransformasi adalah Dubai. Selain tenar sebagai pemilik pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai juga dikenal menawarkan kehidupan mutakhir yang sebelumnya hanya bisa dinikmati dalam angan-angan.
Segala hal bisa kita dapati di Dubai, mulai dari pulau buatan yang di atasnya terdapat resor-resor, hotel dan apartemen mewah dengan arsitektural megah, hingga pusat-pusat belanja dengan penyewa merek internasional yang hanya bisa diakses kalangan atas.
Namun, ternyata, modernitas dan kekinian kota terbesar kedua di Uni Emirat Arab tersebut dicapai hanya dalam kurun 23 tahun. Masa yang relatif singkat untuk sebuah kota dengan transformasi luar biasa seperti Dubai.
Bersama Abu Dhabi dan kelima emirat lainnya, Dubai memberikan kontribusi besar terhadap total produk domestik bruto (PDB) Uni Emirat Arab saat ini yang mencapai angka lebih dari 360 miliar dollar AS.Keputusan pemerintah Dubai untuk memberi variasi dari pedagangan berbasis ekonomi minyak hingga layanan mengarah kepada pariwisata yang membuat real estat makin bernilai, menghasilkan musim properti dari 2004-2006. Konstruksi dalam skala besar telah meletakkan Dubai sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia.Berikut adalah tanda-tanda bahwa kota telah bertransformasi.
Ditandai dengan 3 tahap (Rossi,1982) yaitu:
1. Tahap pertama: penghancuran bentuk dasar struktur kota abad pertengahan
2. Tahap kedua: ekspansi progresif industrialisasi, penjajahan kolonial
3. Tahap ketiga: perlunya transportasi individu dan massal
KOTA-KOTA NUSANTARA
Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Umumnya kota-kota di Nusantara ciri-cirinya adalah terletak berdekatan dengan pusat pemerintahan kerajaan yang menawarkan keamanan, kota pedalaman sebagai pusat administratif, serta tempat raja mengatur wilayah. Kota di Nusantara kebanyakan tidak memiliki batas yang jelas, dan juga memiliki ketergantungan dan dukungan sosial ekonomi dari kota-kota kecil disekitarnya.
Kota yang telah berkembang maju mempunyai peranan dan fungsi yang lebih luas lagi antara lain sebagai berikut :
Sebagai pusat produksi (production centre). Contoh: Surabaya, Gresik, dan Bontang.
Sebagai pusat perdagangan (centre of trade and commerce). Contoh: Jakarta dan Bandung
Sebagai pusat pemerintahan (political capital). Contoh: Jakarta sebagai Ibukota Indonesia
Sebagai pusat kebudayaan (culture centre). Contoh: Yogyakarta dan Surakarta
Sebagai penopang Kota Pusat. Contoh : Tangerang Selatan, Bogor dan Depok.
Letak kota ini berada di pedalaman dan pesisir Pulau Jawa dan di Pulau-pulau besar seperti Wamena (terletak di pedalaman tengah Papua) dan Uwuk (terletak di Pulau Sulawesi), serta terletak di muara-muara sungai besar seperti muara teweh sebuah kota yang terletak di provinsi Kalimantan Tengah.
Selain itu Kota-kota Nusantara tidak memilik batas yang jelas, contohnya Kota Medan. Serta memiliki ketergantungan dan dukungan sosial ekonomi dari kota-kota kecil di sekelilingnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar