Pengikut

Kamis, 12 Oktober 2017

Critical Review Isu Kenaikan Muka Air Laut Kawasan Pesisir



Pulau Jawa merupakan salah satu pulau terluas di Indonesia yang terletak di bagian Selatan Nusantara yang disebut sebagai Negara Maritim. Sesuai dengan julukannya, Pulau Jawa yang secara geografis berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah Utara, Selat Bali di sebelah Timur, Samudera Hindia di sebelah Selatan, dan Selat Sunda di sebelah Barat ini dikelilingi oleh berbagai perairan, baik samudera, laut, maupun selat sehingga pulau ini memiliki banyak sekali kawasan pesisir di dalamnya. Kawasan lingkungan pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut, jika ke arah darat maka wilayah pesisir masih meliputi bagian darat baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti penggundulan hutan (Soegiarto, 1976). Kawasan Pesisir di Indonesia seringkali mendapatkan dampak dari perubahan iklim Indonesia seperti meningkatkanya genangan banjir di dataran rendah, erosi pantai, serta gelombang ekstrim yang nantinya dapat pula memperngaruhi ekosistem pesisir. Padahal kawasan pesisir di Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat didayagunakan jika saja konservasi dan sumber daya berkelanjutan lebih diperhatikan. Jika proses itu terus menerus berlanjut, maka akan menimbulkan perubahan morfologi yang berdampak pada terganggungya ekosistem di permukaan, kerusakan sumber daya air, infrastruktur, perikanan, pertanian, dan wisata bahari. Begitupula dengan Pulau Jawa yang saat ini mulai diancam oleh isu-isu kenaikan air laut akibat dampak pemanasan global yang cukup tinggi sehingga menarik minat para ilmuwan untuk mengkaji dampak apa saja yang akan dihasilkan oleh bencana kenaikan muka air laut tersebut beberapa tahun mendatang. Perubahan iklim yang cukup signifikan terjadi di Indonesia menyebabkan kenaikan air muka laut memiliki variasi mulai dari 60cm-100cm (BAPPENAS, 2010)
     Kawasan pesisir Pulau Jawa merupakan salah satu daerah yang dinamis karena adanya proses darat, laut, dan iklim yang saling mendominasi antara satu dengan yang lainnya. Keragaman dan kompleksitas kawasan pesisir, baik secara fisik, kimia, biologi, dan dimensi kemanusiaan menyebabkan kawasan pesisir rentan terhadap berbagai perubahan. Kerentanan kawasan pesisir disebabkan berbagai hal seperti jenis batuan termasuk tingkat kekerasannya yang beragam mengakibatkan bentuk bentang alam yang berbeda dapat menghasilkan lumpur lunak yang berdampak buruk dengan kenaikan muka laut. Kemudian adapula kenaikan muka laut yang dapat mempengaruhi perubahan garis pantai sehingga berdampak besar pada peningkatan intensitas abrasi maupun akradisi kawasan pesisir Pulau Jawa. Saat ini, isu yang tengah dihadapi di kawasan pesisir Pulau Jawa yaitu dampak pemanasan global. Dampak pemanasan global yang terjadi di kawasan Pesisir Pulau Jawa berupa kenaikan muka laut dengan kecepatan 2-8 mm/tahun. Kenaikan permukaan laut atau kenaikan muka laut merupakan fenomena naiknya permukaan laut yang disebabkan oleh banyak faktor yang kompleks karena merupakan bencana alam yang lambat dan bisa diprediksi sehingga justru manusia cenderung lupa untuk segera menanganinya padahal 100 tahun mendatang kenaikan muka laut tersebut mampu untuk menggenangi kawasan pesisir Pulau Jawa. Hal-hal yang mendukung isu ini yaitu adanya berbaga pendapat yang muncul dari para ilmuwan bahwa konsentrasi gas rumah kaca (green house) sebagai akibat dari peningkatan emisi CO2 dan gas lainnya yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu di permukaan bumi secara global yang akan berdampak terhadap kenaikan permukaan laut. Selain itu, muncul pula pendapat jika muka bumi laut Pulau Jawa saat ini telah mencapai titik tertingginya dan di masa mendatang akan mengalami penurunan akibat fenomena glasial yang terjadi selama beberapa periodik.
     Berdasarkan isu tersebut, maka dilakukanlah penelitian secara visual pada beberapa lokasi kawasan pesisir Pulau Jawa untuk mengindikasi rona awal serta dampak yang timbul dengan menentukan peringkat pada setiap parameter yang ada di kawasan pesisir dan laut tersebut. Secara umum kawasan berisiko kenaikan muka laut di pesisir Pulau Jawa mencakup hampir seluruh daerah Pesisir Utara Pulau Jawa, dari Banten hingga Jawa Timur, kecuali pesisir-pesisir setempat di lereng Gunung Muria, daerah Tuban, dan daerah Baluran. Di pesisir selatan Jawa mencakup pesisir Banyumas, pesisir Kebumen, sebagian pesisir di Yogyakarta, pesisir Lumajang, di sebagian pesisir Banyuwangi (Muncar dan Grajagan) juga mengalami risiko kenaikan muka laut meskipun tidak terlalu signifikan. Implikasi dari kerentanan Pulau Jawa tersebut pada dasarnya akan terjadi bencana alam yang tidak saja merubah struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah, tetapi juga akan berakibat pada perubahan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Pulau Jawa. Bahkan saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan di seluruh kawasan pesisir Pulau Jawa karena menurut analisis awal oleh para ahli, di tahun 2100 kawasan pesisir Pulau Jawa akan merasakan puncak dampak dari kenaikan muka laut ini. Dengan kenaikan muka air laut yang besar maka energi gelombang di dekat pantai juga akan meningkat, dan berpotensi menyebabkan bencana besar seperti banjir rob, tsunami, dan lainnya yang sangat dikhawatirkan saat ini.
     Dengan adanya hal ini, penulis dapat menyimpulkan jika ketika kenaikan permukaan laut mengalami percepatan seperti saat ini, sedikit kenaikan saja dapat menyebabkan efek negatif pada habitat pesisir. Ketika air laut mencapai lebih jauh ke pedalaman, hal itu dapat menyebabkan erosi, banjirnya lahan basah, kontaminasi tanah pertanian, dan hilangnya habitat ikan, burung serta tanaman. Saat badai besar menghantam daratan, permukaan air laut yang lebih tinggi berarti badai akan menjadi lebih besar dan kuat, gelombang akan menyapu segala sesuatu yang dilewatinya. Selain itu, ratusan juta orang yang tinggal di area pesisir akan sangat rentan diterjang banjir. Kenaikan permukaan air laut akan mendesak mereka untuk meninggalkan rumah dan pindah. Pulau-pulau dengan dataran rendah dapat terendam sepenuhnya. Dari fenomena tersebut, dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika kawasan pesisir Pulau Jawa terus menerus mengalami kenaikan muka laut maka tidak menutup kemungkinan kawasan pesisir Pulau Jawa di tahun 2100 muka air laut diprediksi akan mencapai 1,8 meter yang nantinya akan berdampak pada berkurangnya daratan seluas 417,9 Ha atau 0,3% dari luas wilayah daratannya, terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat setempat, terjadinya perubahan garis pantai, dan terganggunya jalur transportasi (Jurnal Teknik, 2012). Belum lagi dampaknya terhadap ekosistem yang hidup di dalamnya seperti keanekaragaman sumberdaya hayati seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, dan estuaria jika kawasan pesisir karena kenaikan muka air laut tidak hanya memberikan dampak negatif pada daerah pulau-pulau kecil saja namun juga pada wilayah pesisir secara keseluruhan tergantung besaran kenaikan muka air laut tersebut.
Dengan adanya kasus kenaikan muka air laut maka ekosistem pesisir akan turut terancam pula karena kenaikan ini dapat menyebabkan habitat terumbu karang di pantai tenggelam lebih dalam di bawah permukaan laut, adanya intrusi air laut, habitat pesisir yang lain akan turut hilang, berkurangnya tanaman pesisir akibat berkurangnya lahan yang dapat ditanami. Untuk itu, diharapkan masyarakat peka terhadap isu-isu pesisir seperti ini agar pencegahan dapat dilakukan sejak dini, karena jika tidak maka kenaikan muka air laut juga dapat memberi dampak negatif pada aspek sosial-ekonomi masyarakat seperti terjadinya perubahan kegiatan ekonomi di wilayah pesisir seperti masyarakat yang awalnya bekerja memanfaatkan keberadaan kawasan pesisir ataupun ekosistem yang terdapat di dalamnya terpaksa harus mencari sumber pencaharian yang baru, peningkatan kerusakan pesisir, serta. hilangnya atau berkurangnya daerah rekreasi yang berarti kurangnya daya tarik wisata pesisir kepada wisatawan yang dapat menimbulkan berbagai efek negatif baik pada ekonomi masyarakat maupun pendapatan daerah, Tidak hanya itu, hutan mangrove yang selama ini dikenal memiliki fungsi untuk mengendapkan lumpur pada akar-akar pohon untuk mencegah terjadinya erosi dan abrasi akan turut terancam akibat kenaikan muka air laut yang menyebabkan erosi dan tidak dapat ditahan lagi oleh hutan mangrove tersebut karena terjadinya perubahan genangan di tepi pantai. Saat ini, keberadaan hutan mangrove cukup dapat membantu meminimalisir terjadinya bencana alam, tetapi masih banyak manusia yang tidak menyadari hal itu sehingga kurang memberi perhatian terhada keberadaan salah satu ekosistem pesisir ini.
     Dari isu-isu diatas, penulis dapat memberikan rekomendasi sekaligus untuk menjawab argument yang telah diberikan terkait adanya isu kenaikan muka air laut pada kawasan pesisir Pulau Jawa. Terdapat bebepa rekomendasi yang dapat diberikan dari adanya isu permasalahan pada kawasan pesisir di Pulau Jawa seperti melakukan pencegahan dini dengan cara membuat peta komponen manajemen risiko bencana (risk management of natural disaster) di dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Aplikasi manajemen risiko bencana alam yang dimuat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah akan membantu dalam menetapkan langkah kebijakan, pengambilan keputusan serta diharapkan akan memberikan manfaat dalam mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya untuk mengantisipasi daya rusak yang tidak dapat dihindarkan. Untuk itu, dilakukan analisis terhadap beberap hal seperti menganalisis wilayah rawan bencana, analisis peruntukan lahan, serta analisis terhadap ketersediaan teknologi untuk pencegahan dan penanganan bencana alam. Selain itu, pendidikan masyarakat juga perlu ditingkatkan terkait pemahaman masyarakat terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat bencana alam. Dalam hal ini masyarakat memiliki peran penting sebagai penggerak penanggulangan bencana terutama di daerah sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, sesuai dengan isi dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, salah satu pencegahan dar dampak pemanasan global pada kawasan pesisir yaitu dengan cara menyusun kegiatan struktur/fisik seperti pembangunan bangunan pelindung pantai, peremajaan pantai, vegetasi pantai, dan pengelolaan ekosistem pantai atau nonstruktur/nonfisik seperti penyusunan perundang-undangan, penyusunan peta rawan bencana, dan penyusunan peta risiko bencana sesuai dengan rekomendasi yang telah dituliskan pada rekomendasi sebelumnya.
Selanjutnya, pencegahan awal dapat pula dilakukan dengan melakukan pencegahan terhadap penyebab utama kenaikan muka laut, yaitu pemanasan global dengan cara :
1.      Relokasi, salah satu alternatif yang dapat dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan lebih menjauhi garis pantai.
2.      Akomodasi, alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture), area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar.
3.      Proteksi, merupakan alternatif yang memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi sesuai dengan prinsip “working with nature”.
     Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kelangsungan kawasan pesisir seperti mengurangi dampak global warming seperti melakukan konservasi sumber daya dengan cara mengurangi limbah dan polusi yang membuat kawasan pesisir dapat tercemar, kemudian mengembangkan inovasi dengan alternative teknologi serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kelestarian alam yang dihasilkan oleh kawasan pesisir. Selain itu, hendaknya Pemerintah sebagai pihak pengatur dan pengawas hendaknya membuat rencana-rencana perbaikan dan penanggulangan juga pencegahan bagi kawasan pesisir sesuai dengan yang tercantum dalam dokumen-dokumen seperti RZWP-3K, RZKP, dan lainnya sehingga kerusakan dapat diminimalisir serta memberikan penyuluhan bagi masyarakat sekitar agar peka terhadap isu-isu yang dapat mengancam keberadaan kawasan pesisir agar kerusakan yang ditimbulkan oleh adanya global warming dengan cara pemberian dinding atau penghalang yang kuat untuk menghalangi masuknya air laut ke darat. Saat ini diharapkan masyarakat mulai mendukung langkah drastis mengurangi kenaikan permukaan air laut dengan cara yang paling mudah yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca, melakukan penanaman pohon, mengurangi pembuangan limbah di sekitar kawasan pesisir, serta mulai melakukan pengelolaan terhadap vegetasi habitat asli yang sudah ada di kawasan pesisir Pulau Jawa.


DAFTAR PUSTAKA
Bappenas.2010. Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Tahun 2020-2025
Haristyana, Ayu. Suntoyo. Sambodho, Kriyo. 2012. Prediksi Kenaikan Muka Air Laut di Pesisir Kabupaten Tuban Akibat Perubahan Iklim. Jurnal Teknik ITS Vol. 1 No.1 (ISSN 2301-9271) : (1-2)
Hastuti, Amandangi. 2012. Analisis Kerentanan Pesisir Terhadap Ancaman Kenaikan Muka Laut di Selatan Yogyakarta. Skripsi. Program Sarjana Departemen Ilmu Kelautan dan Teknologi Institut Pertanian Bogor. Bogor
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Prabowo, H. Astjario, P. 2012. Perencanaan Pengelolaan Pesisir Pulau Jawa Ditinjau dari Aspek Kerentanan Kawasan dan Implikasinya Terhadap Kemungkinan Bencana Kenaikan Muka Laut. Jurnal Geologi Kelautan, Kementrian Energi Sumberdaya dan Mineral
Soegiarto, A. 1976. “Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir”. Lembaga Oseanologi : Jakarta. http://www.reposity.ipb.ac.id. 20 September 2017 (20:55)